Virus Jazz di Mana-mana

KOMPAS.com – Rasanya tak ada musik yang paling dibicarakan bagaimana penetrasinya di tengah ramainya subkultur urban selain musik jazz. Sekitar tiga tahun terakhir, musik jazz mulai meruyak di Pekanbaru (Riau), Solo, Jember, Makassar, dan Ambon.

Dulu jazz bergerak di tiga titik, yaitu Surabaya, Bandung, dan Jakarta. ”Kini jazz tampaknya seperti virus yang mulai mengontaminasi masyarakat di berbagai daerah,” kata Gideon Momongan, pegiat jazz dari C-Pro Productions, Jakarta, Kamis (3/12) di Solo.

Bambang Waskito, penggiat jazz di Kota Solo, membeberkan, pada 1950-1960-an warga kota itu sebenarnya telah mengawali apresiasi pada musik jazz. Ia menyebut nama pianis Koesnoen dan Dharmono yang pernah memperkuat band Eka Sapta, juga Soedharnoto (pianis) yang bersama Mochtar Embut menggubah karya-karya Ismail Marzuki. Ada juga Mulyono, pianis jazz yang sering tampil bersama Maryono, saksofonis.

Begitu pula saksofonis Embong Rahardjo dan adiknya Didiek SSS yang juga berasal dari Solo.

Seperti juga di kota-kota lain, apresiasi masyarakat terhadap musik jazz timbul dan tenggelam, terutama menyangkut kegiatan yang berhubungan pentas. Bambang mengakui, pada akhir 1980-an masyarakat Solo mulai bergairah pada jazz.

”Kenapa musik jazz kurang bisa populer dibanding musik rock, misalnya, karena ada pandangan bahwa permainan akord dalam jazz rumit dan membutuhkan skill tinggi. Jazz memang penuh improvisasi, sebenarnya ini juga ada pada musik keroncong, atau instrumen bonang pada musik karawitan,” kata Kenthut, panggilan Bambang.

Kalau di Solo musik jazz tidak begitu memasyarakat, kata Bambang, salah satunya karena pementasan musik jazz boleh dibilang langka. Yang ada pertunjukan terbatas di kafe hotel tertentu di Solo, sedangkan nomor-nomor yang ditampilkan masih sebatas jazz yang tergolong easy listening.

Donny Kriswinarno (34), saksofonis asal Solo yang kini tinggal di Jakarta dan memimpin Pitoelas Big Band, mengenang semasa tinggal di Solo dia belum sekalipun menikmati pentas jazz. Sebagai penghidupan, jazz juga termasuk musik yang tidak laku di Solo. ”Di Solo main jazz ya ora payu (tidak laku),” kata Donny Koeswinarno (34), menirukan ucapan musisi senior Solo, termasuk bapaknya sendiri yang bermain saksofon di sejumlah rumah makan di Solo.

Sejumlah musisi senior (untuk tidak merujuk ke usia), menurut Donny, bahkan berpandangan bahwa bermain jazz itu tidak nasionalis, mengingat keroncong dianggap sebagai musik yang katanya berkepribadian nasional.

”Saya tertantang untuk menjebol tembok pandangan seperti itu,” kata Donny yang pada Kamis (3/12) tampil di Goethehaus, Jakarta, bersama Pitoelas Big Band.

Berubah

Pandangan semacam itu pelan-pelan telah berubah dalam lima tahun terakhir. Bambang menengarai pada tiga-empat tahun belakangan ini jazz mulai bangkit di Solo. Pada hari raya Lebaran, September lalu, bahkan digelar pentas jazz oleh komunitas penggemar jazz Solo di Ngarsopuro dalam rangka halalbihalal. ”Banyak musisi senior Solo ikut nge-jam. Bahkan, Pak Wali Kota juga sempat hadir,” kata Donny yang juga mendukung Twilite Orchestra.

Wenny Purwanti dari PT Citra Nada Bagus, Jakarta, yang mengkhususkan diri pada produksi musik jazz mengatakan, ”Solo sekarang menjadi kota yang hebat. Apresiasi masyarakatnya pada kegiatan seni budaya juga luar biasa.”

Ia memiliki pengalaman tentang apresiasi masyarakat itu ketika suatu waktu menyaksikan pergelaran musik dari Belanda di Sono Seni Solo, rumah budayawan Sardono W Kusumo, di Kampung Kemlayan, Solo. Dia melihat antusiasme masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan, padahal kondisi tempat pertunjukan tidak terlalu representatif, tetapi mereka tertib, santun, dan apresiatif.

Walaupun musik jazz di Solo masih perlu upaya sosialisasi yang intensif, dia melihat masih ada celah bagi jazz untuk berkembang di Solo.

Citra jazz sebagai musik yang rumit dan butuh apresiasi khusus, tampaknya tak bisa diingkari. Dari pernyataan Gideon Momongan, Direktur Pertunjukan SCJ, bahwa, ”Solo bisa juga ngejazz,” tersirat terhadap suatu proses tertentu bagi musik jazz untuk benar-benar diterima publik musik di Kota Solo.

Hendrik, yang mengaku penyanyi jazz amatir di Solo, mengharapkan kalangan penggiat jazz di Solo berusaha menghilangkan citra jazz sebagai ”musik elite” atau ”musik intelek”, bahkan bila perlu belajar dari musik tradisi setempat.

”Spirit musik jazz yang dari asalnya di Amerika sana merupakan ekspresi ketertindasan seharusnya bisa menjadi musik rakyat jelata, artinya juga harus dekat di hati rakyat di sini,” ujarnya.

Budayawan Kabut B Mawardi menegaskan, penyelenggaraan Solo City Jazz yang akan dijadikan agenda tahunan hendaknya mampu membuktikan bahwa musik jazz bukan cuma milik kalangan elite. ”Bagaimana mengusahakan jazz tidak elitis, tetapi populis,” ujar Kabut yang juga mengaku penggemar jazz.

Bagi Ira Kusumorasri, penari dari Istana Mangkunegaran, musik jazz memang perlu lebih digalakkan.

Ia menganjurkan lebih banyak pertunjukan musik jazz, terutama ini ditujukan bagi kalangan remaja karena merekalah yang akhir-akhir ini menunjukkan kegairahannya kepada musik jazz di Kota Solo. (XAR)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: