Sebuah Ketetapan di Penghujung Malam

Berjalan di atas air puisi
meniti karang tajam baitnya
diantara samudra syairku
setiap liriknya adalah kegelapan
namun disanalah kupetik seberkas cahaya
dalam setiap debur ombak siratnya

Suatu malam, sesaat setelah hujan yang menderas sejak sore mulai mereda, aku duduk sendiri di teras rumah. Saat-saat seperti itu menjadi kedamaian tersendiri bagiku. Sekelilingku yang senyap seakan temani sisa gerimis yang masih belum rela melepaskan titik terakhir dari anugrah-NYA untuk bumi yang kini membasah. Aku tengah berfikir, bagaimana ya seandainya kita tak pernah lagi bisa menjaga kemandirian kita. Bagaimana kita harus selalu mengikuti apapun kata hati. Bagaimana kita menutup pelan-pelan katup otak yang di sana tersimpan sesuatu bernama logika?

Ini adalah semacam pemikiran tersendiri bagiku. Sesaat lalu saat mendung mulai membayang di pelupuk mata, aku seakan merasa mendapat kekuatan untuk melepaskan diri dari sesuatu yang ah, tak juga mampu benar-benar kulepaskan. Apapun sesuatu itu , adalah yang sebenarnya pernah kutulis di salah satu noteku yang lama. Sesuatu yang mengapung tuk menopang kaki-kaki rapuhku.

Dan kembali ke dalam jiwa , jauh sekali kedalam jiwa. Jiwaku sendiri yang masih gemetar hingga kini, merapuh oleh galaunya masa depan yang tak pernah pasti. Oleh tiadanya bimbingan kasih dari yang pernah dihati, orangtua yang kini hanya bisa mengamatiku jauh diujung syurga ( Insya Allah ).

Lalu menagapakah aku begitu galau pada masa depan yang sejak dahulu sebenarnya memang tak pernah benar-benar pasti. Seperti apakah masa depanku nanti? Bagaimana kelak aku? Dengan siapa akukan hidup dengan sebenar-benarnya hidup? Apakah yang akan kukerjaan sama dengan yang kini tengah kukerjakan dengan setengah hati, hingga mencapai sepenuh hati pada akhirnya nanti?

Seperti puisi yang tak pernah selesai bait-baitnya
Dan saat bahagia memberi arti
Gerangan, dedaunan jiwa mana yang menatap akhir
Entah yang entah…
Dalam sebentuk senyum yang memaksa pagi
Kuikat bibir agar tak sepenuhnya terbuka
Dan kini hanya terdiam
Sebentuk diam yang sempurna
…”

Kembali tanya itu hadir, bagaimana aku akan tahu bila memang segala sesuatunya tak pernah dapat kutahu? Aku berfikir secara makna tersirat. Saat galaunya mereda, maka logika aku kedepankan kini.

Akupun menatap rembulan yang jauh….jauuhh diatas tanpa berani menyapa malam yang hening. Kontlempasi seakan bukan suatu jawaban pasti bagiku. Aku tak hendak berfikir secara serius. Ketegangan selalu memacu detak jantungku bergerak lebih cepat, dan akupun terengah, seperti pelari marathon hilang arah.

Seperti fokusnya fikiran yang kini tengah kuarahkan kedalamannya. Apa yang sekiranya dapat kukatakan pada orang-orang yang akan kutinggalkan kelak? Bagaimana sesuatu yang pasti itu merangkak mulai mendekat. Lalu, bagaimana akan kupersiapkan sejumput asa yang tertinggal dalam setiap kenangan yang ada.

Keheningan ini mengusikku. Aku tak nyaman dalam hening. Aku suka keramaian. Aku segelisah angin yang datang membadai tiap akhir bulan ketiga. Rasanya ingin kuberdiri dan mencoba menyapa sahabat lama. Sahabat masa kecil yang pernah terlupa. Di manakah dia gerangan? Yang pernah membuatku menangis kehilangan sepatu rodaku. Atau kenangan sosok seseorang  diambang masa remaja yang pernah membuatku tersipu. Lamunan ini seakan menyadarkanku, bahwa hidup terus bergerak maju. Bahwa aku tak pernah bisa surut kembali kebelakang. Bahwa aku telah mulai kehilangan sosok-sosok masa laluku. Dan memulai pertemuan dengan orang-orang baru yang kadang kutak pasti kedatangannya apa memang sudah dipersiapkan oleh-NYA.

Aku hanya menerima situasi tanpa protes. Dan memang tak mungkin kuajukan gugatan mengapa aku harus kehilangan sosok-sosok masa laluku dan harus menerima kehadiran orang-orang baru dalam dunia kecilku sendiri.

Sapa malam tak pernah benar-benar membuatku takut. Kegelapan tersapu awan yang mengawasiku dari kejauhan. Aku berkhayal dalam alam fikirku sendiri. Aku tak hendak berbagi apapun malam ini. Khusyuku tlah kurekatkan diam-diam dalam helai nafasku secara teratur agar selalu terlihat khidmat.

Kembali kuterpekur mencoba meyakinkan diri apa gerangan yang telah aku lupakan dalam setiap refleksi yang selalu dan selalu kuhadirkan setiap saat dalam jeda sepiku. Bahagia rasanya menyadari betapa sedikit demi sedikit logikaku mulai mengalahkan hatiku. Ah tidak, hanya mencoba mengimbangi. Dan tak perlu kubuat melawan . Tak ada guna melawan perasaan hati.. Aku tak pernah mampu melakukannya. Segala sesuatu kupertanyakan lewat nurani yang tak pernah kulihat bentuknya itu. Yang selalu saja membajak setiap rasio yang mencoba menampakkan bentuknya.

Namun lagi-lagi nurani mengungkung begitu saja. Dengan sangat mudah. Begitu mudah untuk membuatku seakan terlihat seperti orang yang kalah pada keadaan. Dan tak satupun mampu menembus alam fikirku bahwa aku belum kalah. Oleh segala sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupku.

Semisal aku hendak mengakui bahwa segala sesuatunya nyaris membuatku kembali mengapungkan kaki-kakiku pada pilar kuat yang aku sendiri tak yakin mampu terus menerus berdiri kokoh, maka aku agaknya harus sudah menyadari bahwa hal itu tak perlu berlaku lagi dalam setiap goresan sejarah yang tercatat lewat genggaman tanganku. Karena aku ingin jatuh bangun dengan mengusung panji-panjiku sendiri yang lama tak mengibarkan sejarahnya lewat dunia kecilku. Sebuah dunia tanpa makna, versi otak kiriku, namun bermakna dalam bagi otak kananku.

Lalu, kemana kiranya aku akan mencari pilarku sendiri yang kupercaya memahami apa yang tersirat lewat makna rasa yang bermain di daun telingaku, jemariku, kecap lidahku, embun di mataku, gerimis peluhku atau senandung tangisku?
Tentu setiap kisah adalah bermula dari sesuatu yang awal dan berakhir dari sesuatu yang telah mencapai tingkatannya lewat sebuah kontlempasi jernih di sanubari.
Dan kutahu, kesanalah ku akan bermuara……..sekarang, atau tidak samasekali.

Tapi aku belum mati
Aku terus hidup dan hidup dalam dunia kecilku sendiri
Menantang takdir Illahi yang kutahu akan memanjaku dalam dekap-NYA
dan aku tidak pula beku
melainkan hanya mengigil
segelisah badai diakhir Oktober

Kupandang rembulan mulai tersenyum, dan kedipan bintang seakan sebuah sapa yang telah menantiku sejak gerimis memulai sentuhannya lewat pelupuk malam. Teringat sajak kecil seorang kawan yang dikirim lewat sms.

Malam ini Bulan indah. Bulat dengan senoktah awan melintas. Sepertinnya dia kesepian

Ku mencoba tersenyum pada ketetapan hatiku sendiri saat ini. Tuhan, berkati aku dalam setiap langkahku , Amin.
Batavia, Langit malam Oktober 2009

” Matahari menghangatkan angin. Angin menerpa pohon-pohon willow.
Pohon willow membelai sungai “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: