Meski Tak Sekolah Warga Baduy Bisa SMS-an dan Pakai Ponsel

LEBAK, KOMPAS.com – Warga komunitas suku Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, meski tidak mengenyam bangku sekolah namun mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung.

“Walaupun kami tak sekolah, tapi kami bisa menulis, membaca dan berhitung. Bahkan bisa berkomunikasi lewat Short Message Service atau pesan singkat dengan menggunakan handphone,” kata Jali (45) Baduy Luar, warga Kaduketug, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Minggu (6/12).

Jali mengatakan, hingga saat ini masyarakat suku Baduy tidak diperbolehkan bersekolah, karena keputusan adat yang melarang warganya mengenyam pendidikan formal.

Keputusan adat itu, harus dipatuhi seluruh masyarakat Baduy. “Jika mereka meninggalkan adat tentu harus keluar dari warga Baduy,” katanya.

Dia juga mengatakan, warga Baduy sampai saat ini menolak sekolah, namun sebagian besar mereka mampu membaca, menulis dan berhitung.

Hal tersebut terbukti dari banyaknya warga Baduy yang mempunyai handphone dan bisa berkomunikasi lewat pesan singkat.

Warga Baduy harus belajar sendiri agar mampu membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu, dari pergaulan dengan masyarakat luar kawasan Baduy.

“Saya sendiri dan tiga anak bisa membaca dari belajar sendiri setelah bekerja di ladang,” kata Jali, pengrajin produk buatan Baduy.

Dia mengaku, sejak kecil tidak sekolah namun kini mampu mengelola usaha kerajinan yang digelutinya hingga banyak pesanan dari luar Baduy.

Setiap hari dia mencatat jumlah pesanan dari Jakarta, Bandung dan daerah lainnya. Bahkan, untuk mempermudah komunikasi ia menggunakan handphone. “Saya merasa terbantu dengan alat komunikasi ini,” ujarnya.

Ketua Wadah Masyarakat Baduy (Wambi), H Kasmin, mengatakan, saat ini banyak warga Baduy yang mampu membaca, menulis dan berhitung, terlebih adanya pendidikan nonformal yakni pusat kegiatan belajat masyarakat (PKBM).

PKBM tersebut, selama dua tahun terakhir ini menyelenggarakan pendidikan keaksaraan fungsional selama enam bulan yang dibiayai pemerintah pusat, provinsi dan daerah.

“Saat ini sebagian besar warga Baduy usia 15 sampai 45 sudah melek huruf juga mampu menggunakan handphone,” katanya.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak, Djuanda, mengaku pemerintah hingga kini tidak mendirikan sekolah di kawasan Baduy karena terhalang adat. “Kami menghormati keputusan larangan adat itu,” katanya.

Namun, pihaknya tetap menyelenggarakan pendidikan nonformal dengan kerja sama Wambi agar warga Baduy bisa membaca, menulis dan berhitung.

Apalagi, warga Baduy setiap hari berhubungan dengan masyarakat luar, dalam kegiatan usaha perdagangan. “Saya berharap Wambi terus memberikan pendidikan nonformal bagi warga Baduy,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: