Film Indonesia dan Standar Internasional

KOMPAS.com – Film Sang Pemimpi diputar sebagai film pembuka Jakarta International Film Festival ke-11 di Jakarta, Jumat (4/12). Film karya Riri Riza itu merupakan film Indonesia pertama yang terpilih sebagai film pembuka JiFFest sejak festival tersebut diselenggarakan pertama kali pada tahun 1999.

Film sekuel Laskar Pelangi ini berkisah tentang remaja dari keluarga marjinal yang mengejar mimpi untuk bersekolah setinggi (dan sejauh) mungkin. Seperti pendahulunya, film ini mengandung petuah, nasihat tentang hidup, khususnya bagi remaja dalam meraih cita-cita.

Meski belum tentu sukses serupa pendahulunya itu, tampilnya Sang Pemimpi pada malam pembukaan menunjukkan JiFFest kian memberi tempat istimewa bagi karya anak negeri.

Selain memilih sebagai film pembuka, JiFFest juga makin memperlihatkan perhatian khusus kepada film nasional dalam ajang kompetisi film cerita panjang, yaitu Indonesian Feature Film Competition (IFFC).

Kualitas

Sejak pertama kali diadakan pada JiFFest ke-8 tahun 2006, IFFC makin kukuh menjadi barometer kualitas film Indonesia setiap tahun. Terutama tahun ini, terlihat usaha untuk menyeleksi hanya film-film yang dianggap memenuhi standar kualitas, bukan sekadar film yang sukses meraih penonton terbanyak.

Tercatat 15 film Indonesia, yang diedarkan pada periode Oktober 2008-September 2009, masuk dalam IFFC 2009. Seleksi dilakukan bekerja sama dengan Rumah Film Indonesia (www.rumahfilm.org).

Hampir semua film itu mendapat sambutan positif dari kritikus film, mencatat prestasi di berbagai festival luar negeri, atau paling tidak memperlihatkan usaha untuk mencari kebaruan di tengah keseragaman tema dan cara penggarapan film dalam industri film nasional dewasa ini.

Beberapa film unggulan tersebut antara lain Babi Buta yang Ingin Terbang (karya sutradara Edwin), Merantau (Gareth Evans), King (Ari Sihasale), cin(T)a (Sammaria Simanjuntak), Get Married 2 (Hanung Bramantyo), Under The Tree (Garin Nugroho), Garuda di Dadaku (Ifa Isfansyah), dan Pintu Terlarang (Joko Anwar).

Keberadaan IFFC dalam JiFFest ini menjadi alternatif penting sekaligus bisa dianggap sebagai ”ancaman” terhadap ajang penghargaan film nasional lainnya, yaitu Festival Film Indonesia (FFI). Selain masih terseok-seok dan belum menemukan formula penyelenggaraan yang tepat hingga kini, FFI juga masih diwarnai boikot oleh Masyarakat Film Indonesia (MFI).

Jika kondisi boikot ini dibiarkan terus, lama-lama keberadaan FFI dan kredibilitas Piala Citra, yang pernah menjadi lambang supremasi dunia film Indonesia, bisa terancam. Harus diakui, film-film buatan produser dan atau sutradara yang tergabung dalam MFI, misalnya Mira Lesmana atau Nia Dinata, termasuk di antara yang terbaik dari industri perfilman nasional dalam 10 tahun terakhir ini. Apa artinya FFI dan Piala Citra jika film-film terbaik ini bahkan tidak masuk dalam daftar film yang akan diseleksi?

Sementara seleksi film di IFFC, yang tidak terbatas pada film yang didaftarkan saja, membuat ajang kompetisi ini lebih terbuka dan adil bagi semua film. Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti predikat Film Terbaik dan Sutradara Terbaik yang diberikan IFFC-JiFFest akan menggeser gengsi Piala Citra.

Tujuan beda

Meski demikian, pihak JiFFest menyangkal bahwa ajang IFFC bermaksud untuk menandingi, apalagi mematikan FFI.

”Tak bisa dimungkiri, kredibilitas FFI hilang sejak memilih Ekskul sebagai Film Terbaik pada FFI 2006. Sampai saat ini kredibilitas itu belum pulih. Tetapi ajang IFFC di JiFFest tidak bermaksud untuk menggantikan FFI. Kami memiliki tujuan yang berbeda,” ungkap Eric Sasono, Direktur Rumah Film Indonesia dan anggota Dewan Pengarah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia, penyelenggara JiFFest.

Menurut Eric, salah satu kriteria seleksi dalam IFFC adalah platform internasional atau kelayakan sebuah film Indonesia di ajang perfilman internasional, baik dari segi pemilihan tema, penceritaan, maupun gaya.

Untuk mencari standar internasional tersebut, ajang IFFC sejak awal selalu melibatkan dewan juri internasional. Tahun ini Dewan Juri IFFC beranggotakan Brynjar Bjerkem (Norwegia), Laura Coppens (Jerman), dan Thomas Chia (Singapura).

”Idealnya ada lima juri. Kalau ada tambahan dana dari sponsor, kami akan menambah unsur aktor ke dewan juri sehingga bisa membuat kategori (penghargaan) aktor dan aktris terbaik,” tutur Direktur JiFFest 2009 Lalu Roisamri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: