Bumi Tak Bisa Lagi Menunggu…

LONDON, KOMPAS.com — Cuaca kota London cukup cerah. Hari Jumat (4/12) menjadi hari terakhir saya dan Goris Mustaqim di negeri Pangeran Charles ini. Saat tiba sehari sebelumnya, hujan menyambut hingga sore hari. Dari London, kami bersiap ke Brussels, Belgia, dan mulai berkumpul dengan delegasi climate champions British Council dari berbagai negara. Titik kumpul di kantor British Council London, yang berlokasi di seputar Trafalgar Square.

Dari hotel di kawasan St Pancras, saya dan Goris tak punya pilihan lain, selain menumpang underground train (tube) dari Stasiun St Pancras yang tak jauh dari hotel. Tapi, di mana lokasi tepatnya? Seorang petugas tiket di stasiun menyarankan kami untuk menumpangi Piccadily Line hingga Stasiun Leicester Square untuk berganti jurusan, Northern Line dan turun di Stasiun Charing Cross.

Menurut dia, Trafalgar Square tak jauh dari stasiun itu. Sebenarnya, naik taksi bisa menjadi pilihan. Entah kenapa, naik tube terasa lebih menyenangkan meskipun harus naik turun tangga dengan tas koper yang cukup besar dan berat. Satu tiket one way seharga 4 poundsterling sudah dikantongi. Perjalanan dan bertukar kereta memakan waktu tak sampai 45 menit. Jarak dari stasiun ke kawasan Trafalgar Square sekitar 500 meter. Lumayan, sepanjang perjalanan menjumpai berbagai bangunan, pemandangan, dan aktivitas yang menarik untuk diabadikan.

Sesampainya di British Council, baru satu delegasi asal Kuwait, Ahmed Al Mogahwi, yang tiba terlebih dulu. Disusul 3 delegasi asal Jepang, Yasuyo Tatebe, Reimi Yohena, dan Satoko Shirai. Delegasi lainnya yang berkumpul untuk mendapatkan briefing, di antaranya, Agastya asal India dan Haitham Al-Yaqoubi dari Oman.

Briefing yang diberikan adalah gambaran apa yang akan dilakukan sepanjang Train Journey dari Brussels menuju Kopenhagen dan berbagai kegiatan yang akan dilakukan di sela pertemuan COP15. Pertemuan dengan para delegasi juga dimanfaatkan sebagai ajang diskusi untuk bertukar pengalaman dan perkembangan upaya pencegahan yang dilakukan kaum muda melalui proyek-proyeknya.

Ternyata delegasi Jepang, Satoko Shirai, telah memulai kerja sama dengan salah satu climate champions asal Indonesia, Hammam, untuk melakukan edukasi ke sejumlah sekolah menengah di Salatiga dalam pemanfaatan energi alternatif.

“Saya senang, ternyata para guru di Salatiga sangat antusias untuk menerima alternatif energi baru ini. Kalau pemanfaatan biosolar bisa disebarluaskan, saya yakin bisa mengurangi dampak perubahan iklim,” kata Satoko yang juga telah ke Makassar dan Mamuju untuk melakukan proyeknya.

Cerita tentang kegiatan Satoko di Salatiga nanti akan dihadirkan dalam cerita sendiri. Kisah lain juga diungkapkan Ahmed Al Mogahwi, climate champions asal Kuwait, dan Haitham Al Yaqoubi dari Oman. Mereka mengungkapkan, di negaranya tak mudah untuk menyosialisasikan mengenai perubahan iklim. Apalagi, Kuwait bertopang dari industri perminyakan yang menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar. Keduanya memilih untuk masuk ke sekolah-sekolah dan merekrut sejumlah relawan untuk melakukan kampanye bersama. “Terutama untuk mengubah gaya hidup dan kaum muda berpotensi menjadi agen perubahan,” kata Haitham.

Sementara Ahmed, selain mempersuasi anak muda, ia juga berupaya melakukan pendekatan dengan pelaku industri untuk bersama-sama meminimalisasi dampak perubahan iklim. “Kelangsungan hidup di bumi tak bisa lagi menunggu. Kita harus bergerak bersama,” kata dia.

Semuanya juga sepakat, aksi-aksi dan upaya yang telah dilakukan harus disebarluaskan secara masif agar menjadi aksi global. Persoalan yang masih menghambat di berbagai negara adalah good will dari pemerintah dan kesenjangan tingkat pengetahuan untuk menyosialisasikan perubahan iklim. Karenanya, dinilai penting untuk merumuskan formulasi sosialisasi yang efektif untuk menjadikan isu perubahan iklim menjadi persoalan yang dekat pada setiap individu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: