Balada Si Roy (111)

Bis memasuki terminal. Dia masih duduk kebingungan, memperhatikan orang-orang yang bergegas turun.
“Sudah sampai,” tegur si kenek.
“Nggak terus ke Surabaya?”
“Trayeknya memang ke Surabaya. Tapi istri pak sopir baru melahirkan. Kami terpaksa harus pulang.”

Ada embel-embel kata “pulang” lagi! Hatinya mangkel. Dia buru-buru melompat turun. Duduk di jejeran bangku di terminal, memperhatikan bis-bis yang keluar-masuk dan orang-orang yang bergegas.
“Ke Surabaya?” seorang calo menghampirinya.
Roy menggeleng.

Ada tiga lelaki sebayanya melintas. Mereka menyandang ransel juga. Lusuh-lusuh, tapi wajah mereka berseri-seri. Tidak hentinya mereka bercanda, seperti prajurit yang pulang menang dari medan pertempuran.
“Hei, mau ke mana?” panggil Roy.
Mereka menoleh. Saling lempar senyum. “Pulang!” teriak yang menyandang ransel biru.
“Sini dulu!” ajak Roy bersahabat.
“Kamu punya apa untuk kami ?”
“Ada sebungkus rokok!”

Mereka akhirnya melepaskan ranselnya. Selintas Roy menghirup bau tubuh yang beberapa hari tidak tersiram air. Kadangkala aku juga begitu, bisiknya. Lalu mereka berebutan menyambar rokok, tapi Roy melontarkannya ke atas. Yang menyandang ransel biru dengan gesit meloncat dan menangkapnya.
“Kena!” Yatno tertawa girang.
“Habis dari mana?” Roy menyalakan Zipponya.
“Kami baru mendaki Gunung Rinjani,” Yatno mengisap rokoknya.
“Kawan-kawanmu, mana?” Rahmat menyulut rokoknya.
“Aku sendirian,” Roy nyengir.
“Kamu pulang ke mana?” Priyono nimbrung.
“Ke Serang.”
“Serang? Mana, tuh?”
“Serang-Banten,” Roy menambah embel-embel kedaerahan.

Orang-orang memang lebih mengenal Banten ketimbang kota kabupatennya, Serang. Begitu juga kota kabupaten lainnya di wilayah karesidenan Banten, Pandeglang, dan Rangkasbitung. Jadinya orang-orang dari sebelah barat Jawa itu lebih praktis menyebut berasal dari Banten saja ketimbang menyebut kota asalnya.
Banten memang merupakan bagian dari sejarah bumi kita ini.
“Kami ke Semarang. Kita satu arah.” Yatno sudah menyandang ranselnya lagi. Diikuti kedua kawannya.
“Kami mau cepat-cepat berangkat. Sudah sore.” Yatno bergegas.
“Udah bolos sekolah seminggu lagi!” Rahmat menambahi.
Roy duduk saja memperhatikan mereka.
“Kamu nggak ikut kami ?” Yatno menawarkan.
Roy menggeleng. “Sori, deh,” katanya tersenyum.
“Nggak kangen sama orang di rumah? Sobat-sobat di sekolah ?” Pertanyaan Priyono mendesaknya.
“Aku sedang nggak sekolah,” Roy hanya menjawab pertanyaan kedua saja.
“Oke, kalau begitu.'” Y atno mengangkat bahu.
“Kami duluan!”
“Thank’s, rokoknya!” Rahmat menepuk pundaknya.
“Bawa aja!” Roy melemparkannya ke arah Rahmat. “Yuk, ah!” Priyono meninju bahunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: