Fenomena Bunuh Diri di Mal Bisa Dipicu Gangguan Jiwa

JAKARTA, KOMPAS.com – Serangkaian kasus bunuh yang terjadi akhir-akhir ini menjadi fenomena memprihatinkan.  Dalam sepekan terakhir, tercatat setidaknya lima kasus bunuh diri, dan tiga di antaranya dilakukan dengan cara melompat dari lantai atas pusat perbelanjaan.

Masih lekat dalam ingatan, betapa mengenaskan peristiwa tewasnya seorang perempuan muda bernama Ice yang  menjatuhkan diri dari Lantai 5 West Mall Grand Indonesia pada Senin (30/11) lalu. Pada hari yang sama, seorang pria muda bernama Reno juga loncat dari lantai 5 Mal Senayan City untuk mengakhiri hidupnya.

Korban ketiga yang diduga bunuh diri akibat loncat di mal adalah seorang pria berusia 37 tahun.  Pria bernama Richard Kurniawan ini dikabarkan jatuh dari lantai 7 pusat perbelanjaan Mangga Dua Square, Jakarta.

Maraknya kasus bunuh diri dalam sepekan terakhir ini tentu saja mengundang sebuah pertanyaan besar. Mengapa mereka begitu nekad mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak biasa?

Psikolog Klinis dari Fakultas Psikologi Univeritas Indonesia, Dra Yati Utoyo Lubis MA. PhD menganalisis, fenomena bunuh diri yang terjadi bisa saja dilatarbelakangi persoalan hidup yang rumit atau pun terkait dengan adanya gangguan jiwa.

Menurut Yatie, bila melihat pada situasi masyarakat saat ini, bunuh diri sangat mungkin terjadi karena korban tidak menemukan jalan keluar dalam mengatasi rumitnya problem yang dihadapi.

“Hanya orang-orang tertentu saja yang berani memilih jalan untuk bunuh diri. Mereka seperti menemukan jalan buntu dalam mengatasi persoalan hidup,” ujar Yati saat dihubungi Kompas.com, Jumat (4/12)

Faktor penyebab lain yang mungkin terjadi, kata Yati, adalah masalah gangguan jiwa pada orang yang bunuh diri. Ada beberapa jenis gangguan atau penyakit jiwa yang berkaitan dengan bunuh diri yaitu depresi berat dan schizophrenia atau gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak yang lebih akrab disebut penyakit gila.

“Mereka yang depresi berat biasanya dari kepribadian orang-orang yang tidak kuat dan tidak matang. Kalau matang, dia tentu coba akan mencoba mengatasinya alternatif lain, termasuk membicarakan masalahnya dengan orang ahli, sehingga ke depan ia tidak melihat suatu masalah sebagai sebuah dinding yang tidak bisa ditembus,” ungkap mantan Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Rata-rata mereka yang bunuh diri, lanjut Yati, seperti tidak melihat adanya jalan lain dalam menyelesaikan persoalan. Contoh sederhana misalnya  mereka yang mengidap penyakit yang tidak sembuh-sembuh dan sangat menderita akibat penyakitnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: